Pendidikan
merupakan interaksi antara pendidik dan peserta didik untuk mencapai tujuan
pendidikan dan berlangsung ditempat tertentu. Pendidikan bertujuan untuk
meningkatkan potensi peserta didik secara manusiawi agar menjadikan setiap
pribadi unggul dan mampu berdaya saing dalam ranah nasional dan internasional,
sama dengan tujuan pendidikan nasional pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif mandiri dan menjadi warga negara
yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pendidikan
akan memberi berbagai macam perubahan bagi manusianya. Salah satunya adalah
perubahan strata sosial individu, dimana masyarakat bangsa Indonesia hanya
mungkin terjadi jika memperoleh akses pendidikan yang sama merata untuk
melahirkan suatu pendidikan yang dapat mencerdaskan kehidupan bangsa dan
pendidikan melahirkan keadilan sosial, hal ini tentu harus didukung oleh sistem
yang dibangun secara bersama, sistem ini tentunya terdiri dari komponen utama
yaitu pemilihan metode pendidikan yang tepat, guru dan saran pendidikan yang
menunjang.
Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan untuk
mengimplementasikan rencana yang telah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan
praktis untuk mencapai tujuan pendidikan. Dan dalam dunia pendidikan penggunaan
sebuah metode dalam pembelajaran sangatlah penting dalam menunjang keberhasilan
sebuah proses pembelajaran. Yang dimana dalam penerapan pembelajaran seorang
guru mampu mendisimilaritaskan metode belajar agar pembelajaran terasa sangat
menarik dan tidak membosankan yang membuat siswa jenuh dalam mengikuti
pembelajaran. Hal-hal seperti pengetahuan, lingkungan dan seperangkat tujuan
pembelajaran dalam kurikulum akdemik merupakan dasar kriteria yang harus
diadopsi dalam sebuah metode pembelajaran.
Charles A. Tomlison dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate on different
instruction,
memberikan
contoh pelajaran yang menekankan perbedaan di antara setiap siswa. Pembelajaran berdiferensiasi
merupakan proses pembelajaran di mana siswa bisa mempelajari konten berdasarkan
bakat mereka, apa yang mereka sukai, dan kebutuhan khusus mereka (Fox, 2011),
(Tomlinson, 2001). Dalam metode pembelajaran berdiferensiasi yang mengandung instruksi
yang berbeda-beda dalam menerapkan pembelajaran memungkin guru untuk mengajar
siswa sesuai dengan karakternya masing-masing. Dan dengan hal yang sama juga
dapat dimanfaatkan oleh sekolah untuk memberikan kebebasan kepada siswa untuk
belajar, karena seperti yang kita tahu bahwa tidak semua hal pembelajaran dapat
dieksplor oleh siswa tetapi hal yang dianggapnya mampu saja yang akan
dieksplor. Prinsip pembelajaran berdiferensiasi di kurikulum merdeka tidak hanya memperoleh
pemahaman dan pengalaman belajar, tetapi juga upaya untuk membentuk profil
pelajar Pancasila (Martanti et al., 2021). Nilai moral perlu diintegrasikan dalam pembelajaran,
salah satunya melalui Pendidikan Pancasila (Wadu et al., 2019)
Pembelajaran berdiferensiasi atau differentiated
instruction adalah model
pendekatan pembelajran yang dikembangkan oleh para praktisi pendidikan untuk
mengakomidasi kelemahan dalam program pendidikan bagi anak berbakat yang
dilakukan dengan menggunakan program percepatan penuh atau pengayaan. Pembelajaran berdiferensiasi adalah
pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan belajar murid. Pembelajaran berdiferensiasi
merupakan pembelajaran yang berakar pada pemenuhan kebutuhan murid baik dari
segi kesiapan belajar, minat, atau profil belajarnya dan bagaimana guru
merespon kebutuhan belajar tersebut. Menurut Tomlinson (2000) juga dikatakan
bahwa pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha menyesuaikan pembelajaran di
kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid.

Dalam
buku Road to Guru Penggerak (2021) disebutkan bahwa pembelajaran
berdiferensiasi adalah serangkaian kegiatan pembelajaran yang disusun
berdasarkan kebutuhan siswa dan bertujuan untuk membantu siswa sukses dalam
belajar. Dengan kata lain pembelajaran berdiferensiasi ini merupakan salah satu
metode pembelajaran yang memberikan ruang bagi siswa untuk bisa meningkatkan
potensi dirinya sesuai dengan kesiapan belajar serta minat belajar yang
dimiliki oleh siswa. Dalam
metode ini, siswa diberikan keleluasaan untuk memilih apa mereka ingin
pelajari, bagaimana cara belajar yang dikehendaki, dan produk belajar apa yang
ingin dihasilkan. Meski begitu, tetap harus memperhatikan batasan-batasan dan
arahan yang diberikan oleh guru sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
Menurut Theroux (2004), pembelajaran diferensiasi adalah
pembelajaran yang menciptakan berbagai alur. Dengan demikian, perbedaan kemampuan,
minat, dan pengalaman siswa diserap, digunakan, dikembangkan, dan disajikan
sebagai sebuah konsep pembelajaran sehari-hari. Pembelajaran berdifierensiasi
merupakan usaha menyesuaikan proses pembelajaran dengan memberikan beragam cara
melalui diferensiasi konten, proses, produk serta lingkungan belajar dan
asesmen awal untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Atau dengan kata lain pembelajaran berdiferensiasi
adalah pembelajaran yang sifatnya berfokus kepada kebutuhan belajar peserta
didik.
Menurut Tamlinson (2000) pembelajaran berdiferensiasi
yang efektif memiliki empat karekateristik, diantaranya :
- a) Pembelajaran
dengan konsep dan prinsip memberikan dorongan.
- b) Penilaian
berkelanjutan.
- c)
Menggunakan
pengelompokan secara konsisten dan fleksibel.
- d) Siswa
aktif bereksplorasi dengan bimbingan dan arahan dari guru.
Hal lain diatas yang berkaitan dengan karakteristik
pembelajaran berdiferensiasidijelaskan sebagai berikut :
- 1)
Pembelajaran
Berfokus Pada Konsep dan Prinsip Pokok
Dalam hal ini, siswa bisa mengeksplorasi konsep yang
ada pada pokok bahan ajar. Cara ini membuat siswa dapat memahami dan
menggunakan ide dari konsep yang diajarkan. Pada waktu yang bersamaan, siswa
yang berbakat bisa memperluas pemahaman dan aplikasi konsep pokok tersebut.
Pengajaran dalam pembelajaran ini, menekankan kepada
siswa agar bisa memahami materi pelajaran. Bukan menghafal serpihan informasi.
Pengajaran berbasis konsep dan prinsip ini bisa mendorong guru untuk memberikan
berbagai pilihan dalam belajar.
- 2)
Evaluasi
Kesiapan dan Perkembangan Belajar Siswa
Evaluasi kesiapan dan perkembangan belajar siswa akan
diakomodasi ke dalam kurikulum. Hal ini berarti tidak semua siswa membutuhkan
satu kegiatan atau bagian tertentu daru proses pembelajaran secara sama. Guru
harus melakukan evaluasi kesiapan dan minat siswa secara terus menerus dengan
cara memberikan dukungan dan bimbingan tambahan, serta memperluas eksplorasi
siswa.
- 3)
Pengelompokan
Siswa Secara Fleksibel
Dalam proses pembelajaran berdiferensiasi, terdapat
pengelompokan siswa secara fleksibel. Siswa yang memiliki bakat biasanya
belajar dengan berbagai pola, seperti belajar sendiri, berpasangan, atau
berkelompok. Terkadang tugas perlu dibuat berdasarkan tingkat kesiapan siswa,
gaya belajar, minat siswa, ataupun kombinasi antara minat, kesiapan, dan gaya
belajar. Cara belajar klasik dan linier juga bisa digunakan untuk mengajarkan
ide-ide baru.
- 4)
Active
Explorer (Siswa Penjelajah Aktif)
Bila terdapat siswa yang demikian, maka guru bertugas
untuk membimbing eksplorasi tersebut. Karena berbagai kegiatan bisa terjadi
dengan simultan di dalam kelas. Guru memiliki peran sebagai pembimbing dan
fasilitator, bukan sebagai dispenser informasi.
Dalam mendiferensiasikan pengajaran,
guru dapat memodifikasi lima unsur kegiatan mengajar, yaitu materi pelajaran,
proses, produk, lingkungan dan evaluasi (Howard, 1999; Weinbrenner, 2001)
- a)
Substansi Pembelajaran
Dalam
proses pembelajaran, guru memiliki tanggung jawab untuk memastikan semua siswa
mempelajari materi pelajaran dalam kurikulim yang harus siswa kuasai. Tetapi,
guru tidak harus mengajarkan materi tersebut pada semua siswa. Artinya, siswa
yang sudah menguasai kompetensi atau bahan ajar, bisa mengurangi waktu yang
dibutuhkan untuk menguasai kompetensi dan bahan ajar tersebut. Mereka boleh
meloncatinya.
Banyak
sekali kegiatan yang bisa guru lakukan untuk memodifikasi proses pembelajaran
dan pengajaran, diantaranya:
1.
Mengembangkan kecapakan berpikir.
Siswa yang berbakat
harus mengembangkan kecapakannya dalam berpikir analitis, kritis, kreatif, dan
organisasional. Guru bisa mengajarkan secara langsung kecapakan tersebut atau
memadukan kecakapan dengan materi pembelajaran. Selain itu, kecapakan berpikir
juga dapat dikembangkan lewat teknik bertanya.
2.
Hubungan dalam dan lintas disiplin.
Siswa yang berbakat membutuhkan kecapakan berpikir tingkat tinggi, utamanya
adalah kemampuan mengaplikasi, menganalisis, menyintesis, dan mengevaluasi.
Siswa yang berbakat siap untuk belajar dengan kecapakan berpikir tinggi jika
mereka mempunyai kecapakan untuk memecahkan suatu konsep atau ide, mengatur
ulang fakta-fakta, ide dan konsep dalam kombinasi baru, menentukan nilai suatu
ide, dan mengaplikasikan sesuatu yang sudah mereka kuasai dengan cara kreatif
dan baru.
3.
Studi mandiri menjadi alternatif lain
dalam melakukan modifikasi proses. Siswa yang berbakat ada juga yang senang
bekerja sendiri, mulai dari menentukan topik, menentukan cara dan penyelesaian,
menentukan sumber hingga menentukan format produk akhir studi. Guru bisa
memberikan fasilitas kepada studi mandiri.
Guru
bisa mendorong siswa yang akan memodifikasi produk dengan cara
mendemonstrasikan hal-hal yang sudah dikerjakan atau dipelajari ke dalam
berbagai format. Format tersebut bisa mencerminkan kemampuan atau pengetahuan
untuk memanipulasi ide. Contohnya guru bisa meminta siswa untuk melakukan
sintesis pengetahuan yang mereka perolah, daripada meminta mereka untuk
menambah jumlah laporan dari suatu bab.
Selain
itu, guru juga dapat memberikan kesempatan kepada siswa yang berbakat untuk
melakukan investigasi terhadap masalah riil yang terjadi di sekitarnya dan
mempresentasikan solusinya. Misalnya, siswa diminta untuk melakukan investigasi
polusi air kali atau emisi kendaraan, lalu hasilnya bisa disampaikan kepada
instansi pemerintah.
Iklim
belajar yang ada di dalam kelas adalah faktor yang sangat memperngaruhi minat
dan gaya belajar siswa secara langsung. Sikap guru juga sangat menentukan iklim
belajar di dalam kelas. Lingkungan belajar yang sesuai yaitu terkandung di
dalamnya sebuah kebebasan untuk memilih satu disiplin ilmu, kesempatan untuk
mempraktikkan kreativitas, interaksi kelompok, kemandirian belajar,
kompleksitas pemikiran, keterbukaan terhadap ide, mobolitas gerak, menerima
opini, dan merentangkan belajar hingga keluar ruangan kelas.
Untuk
itu, guru harus bisa membuat pilihan yang sesuai mulai dari apa yang diajarkan,
bagaimana mengajarkannnya, materi dan sumber daya yang diperlukan hingga
bagaimana mengevaluasi pertumbuhan belajar siswa.
Modifikasi
evaluasi yaitu menentukan suatu metode untuk mendokumentasikan penguasaan
materi pembelajaran kepada siswa berbakat. Guru harus memastikan bahwa siswa
berbakat mempunyai kesempatan untuk melakukan demonstrasi penguasaan materi
pelajaran sebelumnya saat akan mengajarkan pokok bahasan, topik, ataupun unit
baru mata pelajaran.
Selain
itu, guru harus mendorong para siswa untuk mengembangkan rubrik atau metode
lain untuk melakukan evaluasi proyek atau hasil studi mandiri milik mereka.
Seperti
yang kita ketahui, peserta didik masing-masing memiliki karakteristik
tersendiri seperti model belajar dan pemahaman materi. Maka dari itu, dengan
metode pembelajaran berdiferensiasi dapat memberikan dampak terhadap peserta
didik. Dampak atau tujuan dari kelas atau peserta didik yang menerapkan
pembelajaran diferensiasi yaitu :
- a)
Murid
akan merasa dihargai, karena mereka diajar berdasarkan karakternya.
- b) Guru
dan murid berkolaborasi, sehingga bersifat proaktif untuk mendukung
perkembangan muridnya.
- c) Adanya
perkembangan dari setiap peserta didik, dikarenakan peserta didik diajarakn
berdasarkan kemampuannya.
- d)
Kebutuhan
belajar murid terfaasilitasi dan dilayani dengan baik.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, metode
pembelajaran memiliki peranan penting dalam dunia pendidikan. Metode pembelajarn
berdiferensiasi merupakan salah satu metode yang paling tepat untuk kegiatan
pembelajaran. Dikarenakan pada pasarnya pembelajaran berdiferesiasi sifatnya
berfokus kepada kebutuhan belajar siswa. Sehingga dengan adanya penbelajaran
berdiferensiasi siswa merasa akan terlayani terfasilitasi dikarenakan dia
belajar berdasarkan pada kemampuannya. Selain itu juga metode ini memberikan
keleluasaan kepada peserta
didik untuk
memilih apa mereka ingin pelajari, bagaimana cara belajar yang dikehendaki, dan
produk belajar apa yang ingin dihasilkan.
REFERENSI
Astuti, W, Veni. 2021. Pembelajaran Berdiferensiasi
dan Penerapannya di Kelas. 30 Juni 2021. https://ayoguruberbagi.kemdikbud.go.id/artikel/pembelajaran-berdiferensiasi-dan-penerapannya-di-kelas/
Juniardi, Wilman. 2023. Pembelajaran Diferensiasi: Ciri-ciri, Prinsip Dasar, dan Contoh
Penerapannya. 15 Januari 2023. https://www.quipper.com/id/blog/info-guru/pembelajaran-diferensiasi/
Tomlinson, C. A. (2001). How to
Differentiate Instruction in Mixed-Ability Classrooms. Upper Saddle River, NJ:
Pearson Education
https://www.kompas.com/edu/read/2022/09/20/160400771/pembelajaran-berdiferensiasi--manfaat-ciri-dan-contoh-penerapannya/
https://ujione.id/mengenal-pembelajaran-berdiferensiasi/